Langsung ke konten utama

Postingan

Makna Pulang

Teruntuk saat ini, Makna pulang bukan sekedar pulang. Ya, ga sebecanda itu. Banyak hal yang harus dikorbankan. Ga salah kalo saat ini aku sangat memanfaatkan waktuku di rumah buat hal-hal yang bermanfaat dan quality time. Jarak mengajarkanku begitu berartinya kebersamaan. Dan jauh mengajarkanku akan perjuangan. Turuntuk orang yang selalu menghargai waktu, terima kasih. Karena waktu adalah bagian dari pengorbanan. Turuntuk orang yang menghargai kesempatan, terima kasih. Karena tidak melewatkan begitu saja. (NB: Tulisan ini terinspirasi dari salah satu sahabatku yang saat ini di tanah perantauan yang jauh). Tarakan, 7 Januari 2021

Rindu Dalam Diam

Aku rindu, Tapi aku tak bisa mengungkapkannya.. Bahkan hanya sekedar berucap. Aku hanya bisa memendamnya dalam diam. Jika aku merasakannya, aku hanya bisa berdoa, dan memohon supaya Tuhan menyampaikannya. Dan.. berharap agar bisa tersampaikan. Sesederhana itu.. Perasaan ini sering kali muncul. Apa yang kurasa ini memang harus dinikmati. Bukan untuk ditolak. Aku harus lebih menerima dan berlapang dada. 7 Januari 2021.

Catatan Random

Terkadang hal-hal kecil mengingatkan kita pada masa lalu. Kadang bikin melow. Tapi, sudahlah.. Bicara atau mengungkapkannya pun tak mungkin. Mungkin lebih baik diam. Dan memilih untuk dipendam saja. Kadang ingin bersuara, Ingin mengungkapkan, Ingin menyampaikan apa yang ada dibenak. Tapi... Sudahlah. Aku belum siap jika menerima jawaban yang pahit. ___ Aku pernah mendengar seseorang berkata, "Aku takut tidak bahagia." Ya, aku mendengarnya dari seseorang yang benar-benar sudah ku percayai. Rasanya gimana? Down? Pasti. Jadi, terkadang kita harus melepas seseorang bukan karena kita tidak menyayanginya/membencinya tetapi karena kita takut ia tidak bahagia. Meskipun sulit untuk melepas. ___ Kenapa seseorang setelah putus memilih untuk sendiri? Bukan berarti tak ada yang mendekati. Kadang ia butuh ketenangan dan ingin menyendiri, bahkan trauma masih ada. Atau parahnya kadang mati rasa. Tak ada maksud sedikit pun untuk melewatkan kesempatan yang ada. Hanya saja tak mudah untuk mengo...

Melupa

Melupa untuk sesuatu yang sudah terpatri dilubuk hati memang sulit. Ya, butuh waktu.. Tapi mengingatnya pun percuma, karena ia takkan tahu. Perasaan pun takkan ia mengerti apalagi perjuangan. Memang, tak semua hal yang pernah kulakukan untuknya terlihat. Bahkan aku tak ingin memperlihatkannya apa yang ada dibelakang. Ya, perjuangan dibalik ikatan yang ada. Yang pasti, kala itu, aku tak mau menceritakan bahwa aku hanya memperjuangkan satu hati. Aku yakin dengannya, aku memilihnya untuk menjadi prioritas. Merencanakan sesuatu yang terbaik untuk kami dan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya. Aku.. Aku hanya ingin ia bahagia. Ya, bahagia bersamaku. Mungkin ia tak melihat sisi lain dariku. Sudut pandangnya hanya terfokus pada satu hal. Tapi.. Sekali lagi, aku tak perlu menceritakan panjang kali lebar karena aku mengerti, ia takkan menginginkan untuk tahu. Aku tak mau mengungkapkannya, tapi.. itu benar-benar membuatku merasa tersayat. Begitu perih. Bersabar adalah salah satu obat per...

Pengobar Asa

Ia bagaikan rumah, tempat aku berpulang dan berkeluh kesah.. Ketika dunia terlihat gulita. Ia laksana rembulan yang menerangi kegelapan malam, laksana bintang yang menghiasi malam.. Terima kasih, sudah menjadi tumpuan ketika aku hendak terjatuh. Terima kasih, sudah menampung kisah-kisahku tanpa ada kata bosan. Dia, ya dia.. Adalah pengobar asaku. Yang selalu membuatku tetap berdiri tegak dan kokoh. Dia adalah salah satu alasanku mengapa aku bisa sekuat ini. Cilacap, 31 Oktober 2020

Pernah Kah?

Pernah ga sih, di fase lelah yang bener-bener lelah? Bisa dibilang sedang berada di titik jenuh. Titik dimana lagi ga mau di ganggu dan butuh waktu sendiri. Bahkan seolah kehilangan asa. Rumit, seperti tak punya arah dan tak punya pegangan. Lunglai. Kalut. Kecewa. Bener-bener butuh motivator penggerak supaya terus bangkit dan berdiri kokoh. Bener-bener butuh bimbingan terbaik. Arah yang benar. Dan penyemangat disela-sela hariku. Tuhan, semoga hamba bisa melalui fase ini. Semoga hamba bisa melalui semua ini. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Semoga asaku bisa cepat kembali pulih, bisa lebih bahagia lagi, dan yang pasti hal yang pernah mengecewakan jangan pernah terulang lagi. (Semoga hamba bertemu dan bersama dengan seseorang yang terbaik untuk hamba. Ya, berjodoh dengan orang yang tepat.) Aamiin.. Tarakan, 13 Oktober 2020

Dalam Keheningan, Aku Merindunya

Sepi membawaku pada ingatan itu. Ya, aku mengingatnya.. Aku mencoba berlari untuk melupa. Tapi keheningan itu selalu menghampiri. Mungkin sudah terlalu jauh hubungan kami. Hingga tak mampu tuk berjauhan. Mungkin sudah terlalu erat ikatan kami. Hingga tak mampu putus ikatan. Tuhan.. Aku merindunya. Tentang harapan itu, aku tak tahu masih ada kesempatan atau tidak. Yang pasti aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kami. Tuhan.. Aku sungguh merindunya, tapi situasi membuatku untuk bungkam. Dalam lantunan doaku, ku ucapkan rasa rinduku padanya. Tolong sampaikan salam rinduku untuk dia. Terima kasih, Tuhan. Tarakan, 8 Juli 2020