Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Melupa

Melupa untuk sesuatu yang sudah terpatri dilubuk hati memang sulit. Ya, butuh waktu.. Tapi mengingatnya pun percuma, karena ia takkan tahu. Perasaan pun takkan ia mengerti apalagi perjuangan. Memang, tak semua hal yang pernah kulakukan untuknya terlihat. Bahkan aku tak ingin memperlihatkannya apa yang ada dibelakang. Ya, perjuangan dibalik ikatan yang ada. Yang pasti, kala itu, aku tak mau menceritakan bahwa aku hanya memperjuangkan satu hati. Aku yakin dengannya, aku memilihnya untuk menjadi prioritas. Merencanakan sesuatu yang terbaik untuk kami dan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya. Aku.. Aku hanya ingin ia bahagia. Ya, bahagia bersamaku. Mungkin ia tak melihat sisi lain dariku. Sudut pandangnya hanya terfokus pada satu hal. Tapi.. Sekali lagi, aku tak perlu menceritakan panjang kali lebar karena aku mengerti, ia takkan menginginkan untuk tahu. Aku tak mau mengungkapkannya, tapi.. itu benar-benar membuatku merasa tersayat. Begitu perih. Bersabar adalah salah satu obat per...

Pengobar Asa

Ia bagaikan rumah, tempat aku berpulang dan berkeluh kesah.. Ketika dunia terlihat gulita. Ia laksana rembulan yang menerangi kegelapan malam, laksana bintang yang menghiasi malam.. Terima kasih, sudah menjadi tumpuan ketika aku hendak terjatuh. Terima kasih, sudah menampung kisah-kisahku tanpa ada kata bosan. Dia, ya dia.. Adalah pengobar asaku. Yang selalu membuatku tetap berdiri tegak dan kokoh. Dia adalah salah satu alasanku mengapa aku bisa sekuat ini. Cilacap, 31 Oktober 2020

Pernah Kah?

Pernah ga sih, di fase lelah yang bener-bener lelah? Bisa dibilang sedang berada di titik jenuh. Titik dimana lagi ga mau di ganggu dan butuh waktu sendiri. Bahkan seolah kehilangan asa. Rumit, seperti tak punya arah dan tak punya pegangan. Lunglai. Kalut. Kecewa. Bener-bener butuh motivator penggerak supaya terus bangkit dan berdiri kokoh. Bener-bener butuh bimbingan terbaik. Arah yang benar. Dan penyemangat disela-sela hariku. Tuhan, semoga hamba bisa melalui fase ini. Semoga hamba bisa melalui semua ini. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Semoga asaku bisa cepat kembali pulih, bisa lebih bahagia lagi, dan yang pasti hal yang pernah mengecewakan jangan pernah terulang lagi. (Semoga hamba bertemu dan bersama dengan seseorang yang terbaik untuk hamba. Ya, berjodoh dengan orang yang tepat.) Aamiin.. Tarakan, 13 Oktober 2020

Dalam Keheningan, Aku Merindunya

Sepi membawaku pada ingatan itu. Ya, aku mengingatnya.. Aku mencoba berlari untuk melupa. Tapi keheningan itu selalu menghampiri. Mungkin sudah terlalu jauh hubungan kami. Hingga tak mampu tuk berjauhan. Mungkin sudah terlalu erat ikatan kami. Hingga tak mampu putus ikatan. Tuhan.. Aku merindunya. Tentang harapan itu, aku tak tahu masih ada kesempatan atau tidak. Yang pasti aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kami. Tuhan.. Aku sungguh merindunya, tapi situasi membuatku untuk bungkam. Dalam lantunan doaku, ku ucapkan rasa rinduku padanya. Tolong sampaikan salam rinduku untuk dia. Terima kasih, Tuhan. Tarakan, 8 Juli 2020

Sebuah Makna Menghargai

Hai! Ehem.. Muji dikit dengan bangga ke blog gw sendiri. Seneng punya blog ini, di blog ini gw bisa dengan nyaman menuangkan coloteh kata yang menari-nari di pikiran. Ok, kali ini gw pengen balik nulis lagi. Ya, dengan bahasa yang lebih santuy. Menurut lo apa sih makna dari kata "menghargai"? Kalo menurut gw sendiri, "menghargai" itu bisa memberikan umpan balik (feedback) kepada seseorang dengan cara yang baik. For example: mengapresiasi, merespon, menyempatkan waktu, dll. Ya, kurang lebih seperti itu. Contoh yang simple yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, misal membalas chat. Membalas chat menurut gw itu merupakan salah satu bentuk menghargai. Ketika ada orang yang nge-chat ke orang lain, artinya bahwa orang itu menginginkan atau bahkan mengharapkan balasan. Apalagi kalo penting dan urgent. Pasti orang itu akan sangat mengharapkan jawabannya. Nah, dari hal itu mungkin apabila mendapat chat, maka sebaiknya dibalas dengan baik, siapa tau balasa...

Usia 20+

Usia 20 tahun ke atas.. Mau ngambil tindakan aja mesti mikir dua kali, ga asal-asalan, mikirin besarnya risiko yang bisa terjadi, mikirin kedepannya gimana-gimana, jadi visioner gitu. Usia 20 tahun ke atas.. Mulai mikirin sesuatu yang serius, main-main bukan ranahnya lagi. Fokus pada hal-hal yang bermanfaat dan yang pasti males dengan hal-hal yang ga jelas dan hanya membuang waktu. Usia 20 tahun ke atas.. Yang pasti semakin dewasa. Dari tingkat emosional juga semakin terkendali. Lebih mudah memaafkan karena ga mau ribet. Tapi kadang, susah meluapkan emosional. Usia 20 tahun ke atas.. Untuk soal pertemanan, udah ga jaman yang namanya geng-geng-an, justru malah harus membangun banyak relasi, lebih friendly, dan yang pasti males banget dengan yang namanya perdebatan dan perselisihan, apalagi musuhan. Sama sekali udah ga jaman! Dan ga ada waktu buat mikirin itu keleusss! Usia 20 tahun ke atas.. Untuk soal cinta-cinta-an (cieee), udah kebal dengan yang namanya gombalan. Pemikir...

Rumah

Kala itu usai pulang kantor, aku bercakap dengan salah seorang sahabatku. Kali ini perbincangan kita menyinggung soal rumah. Apa sih itu rumah? "Rumah itu bukan tempatnya, bukan gedung ataupun bangunannya. Rumah itu ya orang-orangnya." Ya, inti dari yang ia katakan seperti yang aku kutip itu. Aku setuju, kadang kita rindu rumah. Tapi rindu yang sebenarnya bukan dengan bangunannya, melainkan pada orang-orang yang menghuni rumahnya. Siapa lagi kalau bukan orang-orang terdekat kita, orang-orang yang menyayangi kita. Karena itu adalah feel yang sebenarnya, alasan mengapa kita merindu. Maka, ketika ada seseorang yg membuatku nyaman dan betah, itulah rumahku. Tempat aku pulang dan berkeluh kesah, serta berbahagia. Tarakan, 7 Maret 2020 | 21:43 WITA