Ketika kita jatuh cinta pada seseorang kita harus siap-siap terima resikonya, yaitu rasa cemburu dan sakit hati. Tapi itu sih resiko terburuknya.
Ketika kita menjalin suatu hubungan dengan orang lain kita harus siap-siap resiko yang lebih besar dari sekedar jatuh cinta karena kita merasa bahwa kita telah memilikinya. Ya, lebih cenderung posesif.
Namanya juga cinta. Mau gimana lagi. Apalagi kalau sudah lebih dari sekedar cinta. Pasti rasanya kita tak mau kehilangan, bukan?
Ada banyak hal yang seseorang lakukan demi menjalin hubungan cinta yang harmonis. Kuncinya ya komunikasi, komitmen, saling percaya dan selalu tanamkan rasa cinta. Dengan begitu, apapun yang mengganggunya pasti akan terabaikan. Sebesar apapun badai menghantam, pasti takkan goyah.
Lalu, adilkah jika suatu hubungan percintaan putus karena salah satu diantara mereka merasa bosan? Ini itu, ingin ganti dengan suasana baru dan sebagainya.
Jika hanya karena itu menjadi suatu alasan untuk berpisah sepertinya tidak masuk akal.
Lantas, bagaimana dengan hubungan yang selama itu terjalin? Apakah hanya main-main saja?
Ingat, hati itu bukanlah taman bermain yang bisa kamu jajaki seenaknya untuk bermain, hati itu bagaikan taman bunga yang harusnya kamu rawat dan kamu jaga.
Mungkin dalam suatu hubungan ada yang namanya titik jenuh dimana kita merasa bosan. Entah itu karena apa? Mungkin setiap pasangan pernah mengalaminya. Bahkan terkadang sebabnya susah untuk dijelaskan atau tak ada sangkut pautnya.
Tapi coba pikirkan lagi, apa hanya karena itu hubungan bisa berakhir? Apalagi jika sudah saling memiliki chemistry dan mendapat persetujuan dari keluarga kedua belah pihak. Hal itu sangat disesalkan.
Benar-benar sangat disesalkan. Itu konyol. Itu bukan jalan keluar. Seharusnya jika ada suatu masalah itu dibicarakan baik-baik. Bukan malah mengakhiri suatu hubungan.
Hubungan itu bukan soal manis diawal, tapi bagaimana kita untuk saling mempertahankan dan menjalin hubungan yang harmonis.
Coba pikirkan lagi.. Sebenarnya apa yang kamu cari dalam hidupmu? Apa yang kamu kejar dalam hidupmu? Pasangan seperti apa yang kamu idamkan.
Kamu menginginkan yang sempurna? Ingat, sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Sesempurnanya manusia, pasti memiliki kekurangan. Bukan berarti dilihat dari fisik, tetapi dari sifat ataupun sikapnya.
Untuk apa mencari yang sempurna jika keduanya sudah saling menerima kekurangan dan saling melengkapi?
Jika kamu terlalu mengejar yang sempurna, maka yang terbaik akan pergi.
Mungkin kamu belum merasa bahwa ada seseorang yang terbaik. Mungkin seseorang akan mengalami beberapa proses dahulu untuk tahu bahwa ada seseorang yang terbaik untuk dirinya.
Allah SWT memang Maha membolak-balikkan hati. Mungkin janji dan ucapannya sehidup semati, tapi nyatanya masih bisa redup dan lelah hati. Tapi rencana Allah SWT adalah yang terbaik. Allah Maha Adil.
Aku yakin, suatu saat seseorang yang seperti itu akan disadarkan oleh Mu ya, Allah. Dan lebih bisa mensyukuri akan segala sesuatu dengan tulus dari hati.
Kartasura, 1 November 2018
NB: Gak bisa bobok, entah kenapa jadi nulis ini. -_-
Ketika kita menjalin suatu hubungan dengan orang lain kita harus siap-siap resiko yang lebih besar dari sekedar jatuh cinta karena kita merasa bahwa kita telah memilikinya. Ya, lebih cenderung posesif.
Namanya juga cinta. Mau gimana lagi. Apalagi kalau sudah lebih dari sekedar cinta. Pasti rasanya kita tak mau kehilangan, bukan?
Ada banyak hal yang seseorang lakukan demi menjalin hubungan cinta yang harmonis. Kuncinya ya komunikasi, komitmen, saling percaya dan selalu tanamkan rasa cinta. Dengan begitu, apapun yang mengganggunya pasti akan terabaikan. Sebesar apapun badai menghantam, pasti takkan goyah.
Lalu, adilkah jika suatu hubungan percintaan putus karena salah satu diantara mereka merasa bosan? Ini itu, ingin ganti dengan suasana baru dan sebagainya.
Jika hanya karena itu menjadi suatu alasan untuk berpisah sepertinya tidak masuk akal.
Lantas, bagaimana dengan hubungan yang selama itu terjalin? Apakah hanya main-main saja?
Ingat, hati itu bukanlah taman bermain yang bisa kamu jajaki seenaknya untuk bermain, hati itu bagaikan taman bunga yang harusnya kamu rawat dan kamu jaga.
Mungkin dalam suatu hubungan ada yang namanya titik jenuh dimana kita merasa bosan. Entah itu karena apa? Mungkin setiap pasangan pernah mengalaminya. Bahkan terkadang sebabnya susah untuk dijelaskan atau tak ada sangkut pautnya.
Tapi coba pikirkan lagi, apa hanya karena itu hubungan bisa berakhir? Apalagi jika sudah saling memiliki chemistry dan mendapat persetujuan dari keluarga kedua belah pihak. Hal itu sangat disesalkan.
Benar-benar sangat disesalkan. Itu konyol. Itu bukan jalan keluar. Seharusnya jika ada suatu masalah itu dibicarakan baik-baik. Bukan malah mengakhiri suatu hubungan.
Hubungan itu bukan soal manis diawal, tapi bagaimana kita untuk saling mempertahankan dan menjalin hubungan yang harmonis.
Coba pikirkan lagi.. Sebenarnya apa yang kamu cari dalam hidupmu? Apa yang kamu kejar dalam hidupmu? Pasangan seperti apa yang kamu idamkan.
Kamu menginginkan yang sempurna? Ingat, sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Sesempurnanya manusia, pasti memiliki kekurangan. Bukan berarti dilihat dari fisik, tetapi dari sifat ataupun sikapnya.
Untuk apa mencari yang sempurna jika keduanya sudah saling menerima kekurangan dan saling melengkapi?
Jika kamu terlalu mengejar yang sempurna, maka yang terbaik akan pergi.
Mungkin kamu belum merasa bahwa ada seseorang yang terbaik. Mungkin seseorang akan mengalami beberapa proses dahulu untuk tahu bahwa ada seseorang yang terbaik untuk dirinya.
Allah SWT memang Maha membolak-balikkan hati. Mungkin janji dan ucapannya sehidup semati, tapi nyatanya masih bisa redup dan lelah hati. Tapi rencana Allah SWT adalah yang terbaik. Allah Maha Adil.
Aku yakin, suatu saat seseorang yang seperti itu akan disadarkan oleh Mu ya, Allah. Dan lebih bisa mensyukuri akan segala sesuatu dengan tulus dari hati.
Kartasura, 1 November 2018
NB: Gak bisa bobok, entah kenapa jadi nulis ini. -_-
Memang resiko itu datang ketika orang menginginkan sesuatu terutama percintaaan. Tapi yang harus bener2 dibedain dan dipilah adalah narasi tentang Pacaran dan Keseriusan. Karena apa Pacaran sendiri memang bermakna seneng2 doang, panteslah kalau senengnya dah didapet ya udah jenuh pasti lah. Berbeda dengan "Keseriusan" lu mau dalam posisi apa dan dalam kondisi apa pasti akan legowo untuk menerimanya dan tidak tega melanggar dari kesepakatan keseriusan yg dibuat.
BalasHapusBener bgt, Kak..👍
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus